Site icon Tulisan Blogger Indonesia

SEO SUDAH MATI! Gak Perlu Lagi Belajar SEO, Benarkah Begitu?

SEO sudah mati? Apa? Yang bener????

Lebay ya saya…. Hahahaha.

Namun ya itu sih reaksi saya kalau mendengar dan membaca ada yang bilang kalau SEO is DEAD. Sekalipun ya, situs ini pakai nama domain itu.

SEO sudah mati, gak perlu lagi belajar yang namanya SEO.

Serius? *Eyes rolling*

Eh tapi… traffic paling gede kalian datangnya darimana dong kalau gitu? Berapa banyak yang datangnya dari Google atau mesin pencari lainnya seperti Bing?

Kalau jawabannya: BANYAK… Well, artinya SEO masih ada dong. SEO belum mati.

Ya setidaknya, Om Neil juga sependapat dalam hal ini. Yang ada itu bukan SEO sudah mati. Melainkan perubahan algoritma di dunia digital alias internet yang membuat pergeseran dalam hal optimalisasinya.

Kalau SEO Mati alias Tidak Berlaku Lagi

Sebelum bahas detail, saya ingin ngajak berandai-andai dulu ya. Ini sebenarnya ditulis di situs yang pakai nama SEOisDead itu loh. Sekalipun domainnya seperti itu, bahasannya itu gak demikian. Dia tetap mengatakan kalau kita itu masih perlu SEO.

Coba deh cek halaman About dari situs itu:

Dan memang… kenyataannya, saya sampai ke situs itu karena mencari di mesin pencari, dalam hal ini Google dengan keyword: “is seo dead”.

Begitu baca, ternyata isinya memang masih relevan seperti yang disampaikan di halaman tentang itu.

Back to laptop… soal SEO dibilang sudah gak berlaku lagi, menurut penulis itu, dibuat oleh mereka yang menyerah menerapkan SEO untuk situs mereka. Dan mereka beralih ke yang namanya dunia sosial media, terutama di Twitter.

Mereka ini nyerah karena sudah berusaha sedemikian rupa mengoptimasi situs atau blog mereka, tapi traffic gak berubah. Akhirnya ke sosial media deh yang GRATIS. Contohnya ya… Twitter.

Kita bisa menyebar link postingan kita di sana kan? Ada batasankah? Gak ada sama sekali. Kalau kamu mau post sehari 10 kali pun boleh kan? Atau mau nebeng hastag yang lagi populer? Boleh aja, tapi resiko dibaca orang dan kemudian ditandain sebagai spam harus siap ditanggung ya.

Kenyataan Menyedihkan Soal Twitter dan Sosial Media Lainnya!

Namun… kenyataannya, seberapa banyak pun kamu menyebar link di twitter kamu, traffic blog kamu itu gak naik secara signifikan banget. Sekalipun kamu punya banyak follower setia.

Follower setia yang RT atau LIKE post kamu di twitter itu. Namun, berapa banyak coba yang sebenarnya KLIK link yang kamu sebar? Pernah perhatiin gak?

Kan beberapa waktu lalu saya ada mengumpulkan data Blogger Indonesia untuk cek sumber traffic mereka dari mana saja. Dari total 260 URL, secara rata-rata, traffic dari sosial media itu hanya sebesar 7,82% dari total seluruh traffic. Kecil?

Traffic dari Sosial Media (penelitian 260 blogger indonesia)

Tahu gak? Dari total 260 blog itu, hanya ada 33 yang traffic dari sosial medianya lebih dari 10%. Selebihnya? 96 mendapatkan traffic kurang dari 10% dan sisanya? Gak ada traffic dari sana. Sosial media di sini tuh gabungan dari Twitter, Facebook, Google Plus, Pinterest, Youtube, Whatsapp dan social bookmark lainnya ya.

Taruhlah blog kamu masuk dalam rata-rata 7,8% ya. Kalau kamu mau mendapatkan traffic sebesar 100 unique pageviews per bulan (kecil loh…), artinya kamu harus share setidaknya sebanyak 1.278,77 kali di sosial media. 

Banyak? Banget…. Apalagi sekarang banyak perubahan algoritma di sosial media yang mempengaruhi postingan kamu di akun media sosial itu dilihat orang apa gak. Worth gak kamu melakukan itu di sosial media?

SEO Sudah Mati – Iyes… Buat yang…

Kalau misalnya menurutmu gak banget deh mendapatkan traffic dari sosial media, ya jauh lebih baik mengincar traffic dari SEO. Kecuali kamu memang sudah terkenal (authority) di sosial media, ya mungkin lebih mudah.

Memang, ada beberapa “SEO yang sudah mati” alias gak berlaku lagi, yaitu praktek yang…

1. Keyword Stuffing

Keywords atau kata kunci sendiri tetap memegang peranan penting dalam SEO. Namun, praktek yang biasa dilakukan dulu, yaitu menebar kata kunci di setiap postingan sehingga tulisannya gak ada makna, itu yang sudah gak berlaku lagi.

Dengan perkembangan algoritma Google yang baru, tulisan-tulisan yang fokusnya hanya pada menghasilkan traffic dari mesin pencari sudah dihapuskan dari halaman-halaman pencarian Google >> PANDA.

Ya jujur aja, gak ada yang suka kan kalau pas lagi nyari di Google eh yang di nomor satu pas diklik isinya cuma kata demi kata gak beraturan tanpa makna.

Google suka dengan konten yang bermanfaat – yang berkualitas bagi pembaca. Ketika kita melakukan pencarian, Google memprediksi dengan rankbrain nya dan mengolah apa sebenarnya yang dicari dan membaca konten keseluruhan. Bukan lagi konteng dengan kata kunci doang.

2. Konten Duplikat

Ini nih… jangan sampai ada konten duplikat sama sekali, entah di dalam blog kamu sendiri ataupun di situs lainnya. Kalau bisa kita selalu memberi informasi yang lebih baru. Jaman dahulu kala, dunia per-SEO-an diramaikan dengan konten-konten yang sama.

Blog A bisa aja punya tulisan isinya sama dengan blog B. Paling dirubah dikit sana sini. Tapi 90% isinya sama sampai ke kata-katanya. Gak boleh itu. Plagiat itu menandakan orang yang punya itu gak “berpendidikan” loh. Sorry to say, itu sih pandangan saya.

Saya sendiri masih agak kesel sama yang “terinspirasi” sama tulisan 9 Trend SEO yang masih berlaku di 2018 itu. Walaupun pembukanya beda, tapi isi semuanya sampai ke kata demi kata sama. Dikomen, sampai detik ini gak dijawab.

Makanya, saran saya sih… jangan sekali-kali hanya menuangkan press release dalam blog post untuk yang monetasi blog lewat acara-acara blogger.

3 Beli Link

Ini nih…. masih banyak sebenarnya kan? Ketika kita monetasi blog dengan brand pun sebenarnya juga melakukan ini kan? Bahkan kalau saya sendiri gak salah tangkap, sekarang banyak blogger yang memang “menjual” link ke brand. Google, melalui update alogritma Penguin, ingin semua lebih jelas. Bersahabat!

Dan namanya sahabat, gak ada yang jual beli kan? Saling bantu mah boleh. Kayak misalnya nemu tulisan bagus dari temen, terus kasih link ke sana, ya itu wajar banget kok. Gak dilarang malah. Asalkan tulisannya juga satu topik dengan yang dikasih link itu.

Baca tulisan Dani soal Link Dofollow & Nofollow ini deh.

Bahkan… sebenarnya dalam SEO, adalah penting untuk memberi setidaknya 1 link external yang memang dipercaya.

4. SPAMMING

Yang namanya sahabat baik gak akan bikin temennya kesusahan kan? Jadi kenapa harus SPAMMING – dengan harapan link postingan tersebar di mana-mana. Memang, salah satu yang dibaca dalam SEO sekarang adalah Social Signal, tapi bukan berarti juga nyebar link secara spamming.

Saya lihat, kebiasaan banyak blogger Indonesia adalah menulis, publish dan kemudian sebar di sosial media sekaligus. Bahkan langsung sebar di lebih dari 2 Facebook Group sekaligus (pernah saya ketemu yang share di 10 FB Group sekaligus).

Algoritma Google gak suka ini. Bahkan algoritma Facebook pun gak suka juga. Makanya, sekarang ini banyak yang dianggap spamming oleh Facebook – bukan karena posting link terus di FB pribadi atau karena posting link kebanyakan di komen orang.

Yang dianggap spamming itu adalah menyebar link sekaligus di beberapa lokasi (facebook page, facebook pribadi, facebook group). Coba deh baca penjelasannya Facebook sendiri mengenai spam ini.

Nah ke-4 SEO yang sudah tidak berlaku di atas tadi sebenarnya pernah dijelaskan di tulisan tentang Kesalahan dalam SEO.

Masih Yakin SEO Sudah Mati?

Serius? Masih lebih yakin kalau SEO sudah mati? Jadi mau main di sosial media aja? Boleh aja sih, gak ada yang larang kok. Tapi boleh dong perhatikan dulu gambar berikut ini:

Baca deh… 93% pengalaman di dunia digital atau online selalu dimulai dari Search Engine. Dan 82% pengguna internet menggunakan pencarian. Itu memang sih statistik di luar sana, tapi saya yakin, statistik di Indonesia untuk jumlah pengguna yang menggunakan pencarian itu lebih tinggi.

Akhir kata, saya cuma mau bilang, kalau:

SEO sudah mati kalau mesin pencari seperti Google, Yahoo, Bing, Duckducks, Baidu sudah tidak ada lagi.

Setuju? Atau gak?

Exit mobile version